“Addampengakka puang, tappasalaka kasi, (maafkan kami bu, kami khilaf)”.Begitulah kata-kata saya di depannya dengan bahasa daerah yang sama sambil sedikit berbungkuk sebagai tanda kesopanan dan penghargaan saya padanya.“Maupe’ko tu ia bawang mitako, tania tahu laingnge, magani kira-kira nakko engka tahu lain mitako atau missengngi gaunu nye, apalagi bafa’nu, naulle kafang nauno manekko” peringatannya lebih lanjut seolah menasehatiku. Bokep jilbab Ohh.. Saya sendiri sudah tua, tapi masih senang dengan hal seperti itu. Maksudnya bahwa “Untung hanya saya yang melihatmu atau mengetahuimu, tidak ada orang lain, kira-kira apa jadinya jika ada orang lain yang melihat dan mengetahuimu, apalagi bapakmu, mungkin ia membunuh kalian”.Suara dan warna mukanya mulai sedikit normal. Mukanya merah kehitaman seperti orang habis dipukul dan ingin balas dendam.Tanpa suara sedikitpun, saya pelan-pelan mendekatinya dan pasrah menerima segala hukuman yang akan dijatuhkan atas sikap kami berdua tadi, yang kurang senono menurut pandangan masyarakat di kampungku.“Tongentongeng pada ikotu massifa olok-oloko, asu..! Ia langsung saja bangun, lalu duduk, lalu mengangkat sedikit sarungku, lalu ia tarik kebawah rok dan celanaku. Tapi hingga jam 4.15 m ia belum juga datang.















