Si Junior tiba-tiba juga ikut-ikutan ciut. Bokep indo Ya tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Ayo..!Aku masih diam saja. Atau jangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya pura-pura masuk. Aku masih mematung. Ia tersenyum. Keberuntungankah? Ini gara-gara ibuku menyuruh pergi ke rumah Tante Wanti. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku.Seakan sengaja memainkan Si Junior. Ayo. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya. Ciut. Sekenanya saja kubuka halaman majalah.“Tunggu ya..!” ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima kedatanganku.“Mbak Hawin.., udah ada pasien tuh,” ujarnya dari ruang sebelah. Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Hawin lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Hawin kembali ke tempatku. Jari tangan mulai dingin. Aku lupa kelamaan menghitung kancing. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.“Bang, Bang kiri Bang..!”Semua penumpang menoleh ke arahku. Lalu memegang pahaku, “Yang mana..?”Yes..! Kesempatan tidak akan datang dua kali. Mobil bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya.










