Aku tersenyum. Video bokep barat Biasa, habis main biasanya ngantuk bawaannya. “Capek aku, Pa,” katanya dengan napas ngos-ngosan. “Oohh,” kataku sambil senyum juga. Ternyata kamar dikunci. “Yah larinya kok kesitu lagi,” kataku. Dia suka meng-oral-ku, tetapi kalau di-oral nggak mau, alasannya kotor bekas darah menstruasi, keputihan, bau, pokoknya nggak boleh, yah sudah aku nurut aja, toh aku yang diuntungkan. “Ma, maaf yah, soalnya sudah lama nggak main jadi keluarnya cepet,” kataku. Pagi hari menjelang siang aku “meminta” tetapi dia menolak karena capek. Yah aku coba jalani saja, hingga suatu saat.. Akhirnya dengan meminjam modal pada saudara (jelas tidak mungkin kalau ke bank, apa yang mau diagunkan). Posisi tidur istriku belum berubah, masih terlentang dengan kaki terbuka lebar dan mata terpejam (yang jelas bukan tidur kemungkinan kesel, ya). Tanpa komentar kulakukan apa yang dia minta. Dia diam aja. “Yah larinya kok kesitu lagi,” kataku. Aku berikan alasan bahwa biaya terbesar untuk mempunyai anak adalah pendidikan dan kedua kesehatan, sehingga dengan kondisi yang belum stabil, aku belum berani ambil resiko – kita selalu bermusyawarah dengan memberikan alasan yang masuk akal, sehingga tidak ada larangan tanpa alasan – alias otoriter.















