Itu karena anak perempuan dalam mobil sedan itu terlihat ingin muntah, jadi dia membutuhkan kantong plastik hitam demi memuntahkan semua isi perutnya. Bokep jilbab Aih, kalimat ini mengingatkanku pada Hujan Bulan Juni milik Sapardi. Mereka juga mengeluarkan sebatang rokok. Pikiranku mendadak kacau. Dingin kota ini makin terasa. Aku memang tidak pernah mempermasalahkan hal itu. “Kamu tidak perlu melakukan itu.”
“Aku tidak ingin kamu sakit.”
“Aku sudah pakai jas hujan.”
“Itu tidak cukup.”
Lalu, sebuah mobil di seberang jalan membukakan pintu. Aku tidak mempermasalahkan orang-orang yang sering berjalan dengan lagak, atau orang yang kadang singgah mengencingiku, atau ketika aku jadi bahan lelucon karena sebuah mobil milik pejabat menabrakku. Dia terpelanting. Pikiranku mendadak kacau. Gila. Kisah-kisah miris semacam itu sudah jadi makanan sehari-hari. Aih, kalimat ini mengingatkanku pada Hujan Bulan Juni milik Sapardi. Kita ke sana!” Salah satu anak berambut keriting mengajak anak laki-laki itu ke suatu tempat. Seperti biasa, aku berdiri di tempat ini, di dekat tiang nama jalan yang bertuliskan Jalan Merdeka Raya. Dia terpelanting. Perempuan yang mengenakan jas hujan itu masuk, meninggalkan lelaki yang tadi. Malam itu tidak hujan tapi bau aspal basah karena hujan tadi sore masih menguar. Aku serius soal ini.










